Sabtu, 15 Maret 2014

Epistemologi


BAB I
PENDAHULUAN


Latar Belakang

Manusia pada dasarnya adalah makhluk pencari kebenaran. Manusia tidak pernah puas dengan apa yang sudah ada, tetapi selalu mencari dan mencari kebenaran yang sesungguhnya dengan bertanya-tanya untuk mendapatkan jawaban. Namun setiap jawaban-jawaban tersebut juga selalu memuaskan manusia. Ia harus mengujinya dengan metode tertentu untuk mengukur apakah yang dimaksud disini bukanlah kebenaran  yang bersifat semu, tetapi kebenaran yang bersifat ilmiah yaitu kebenaran yang bisa diukur dengan cara-cara ilmiah.
Perkembangan pengetahuan yang semakin pesat sekarang ini, tidaklah menjadikan manusia berhenti untuk mencari kebenaran. Justru sebaliknya, semakin menggiatkan manusia untuk terus mencari dan mencari kebenaran yang berlandaskan teori-teori yang sudah ada sebelumnya untuk menguji sesuatu teori baru atau menggugurkan teori sebelumnya. Sehingga manusia sekarang lebih giat lagi melakukan penelitian-penelitian yang bersifat ilmiah untuk mencari solusi dari setiap permasalahan yang dihadapinya. Karena itu bersifat  statis, tidak kaku, artinya ia tidak akan berhenti pada satu titik, tapi akan terus berlangsung seiring dengan waktu manusia dalam memenuhi rasa keingintahuannya terhadap dunianya.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka makalah  yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
  1. Apa yang bisa diketahui manusia

  2. Apakah sumber-sumber pengetahuan itu

  3. Bagaimana cara-cara memperoleh dan mengembangkan pengetahuan

  4. Apa yang dimaksud dengan rasionalisme dan empirisme


BAB II
PEMBAHASAN


A. Pengertian Epistemologi

Epistemologi (filsafat ilmu) adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Epistemologi merupakan salah satu objek kajian dalam filsafat, dalam pengembangannya menunjukkan bahwa epistemologi secara langsung berhubungan secara radikal (mendalam) dengan diri dan kehidupan manusia. Pokok kajian epistemologi akan sangat menonjol bila dikaitan dengan pembahasan mengenai hakekat epistemologi itu sendiri. Secara linguistic kata “Epistemologi” berasal dari bahasa Yunani yaitu: kata “Episteme” dengan arti pengetahuan dan kata “Logos” berarti teori, uraian, atau alasan. Epistemologi dapat diartikan sebagai teori tentang pengetahuan yang dalam bahasa Inggris dipergunakan istilah theory of knowledge. Istilah epistemologi secara etimologis diartikan sebagai teori pengetahuan yang benar dan dalam bahasa Indonesia lazim disebut filsafat pengetahuan. Secara terminologi epistemologi adalah teori mengenai hakikat ilmu pengetahuan atau ilmu filsafat tentang pengetahuan.

Masalah utama dari epistemologi adalah bagaimana cara memperoleh pengetahuan, Sebenarnya seseorang baru dapat dikatakan berpengetahuan apabila telah sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan epistemologi artinya pertanyaan epistemologi dapat menggambarkan manusia mencintai pengetahuan. Hal ini menyebabkan eksistensi epistemologi sangat urgen untuk menggambar manusia berpengetahuan yaitu dengan jalan menjawab dan menyelesaikan masalah-masalah yang dipertanyakan dalam epistemologi. Makna pengetahuan dalam epistemologi adalah nilai tahu manusia tentang sesuatu sehingga ia dapat membedakan antara satu ilmu dengan ilmu lainnya.

Epitemologi merupakan cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, sarana, metode atau cara memperoleh pengetahuan, validitas dan kebenaran pengetahuan (ilmiah). Perbedaan landasan ontologik menyebabkan perbedaan dalam menentukan metode yang dipilih dalam upaya memperoleh pengetahuan yang benar. Akal, akal budi, pengalaman, atau kombinasi akal dan pengalaman, intuisi, merupakan sarana mencari pengetahuan yang dimaksud dalam epistemologik, sehingga dikenal model‑model epistemologik seperti rasionalisme, empirisme, Epistemologi juga membahas bagaimana menilai kelebihan dan kelemahan suatu model epistemologik be­serta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah). 

Pengetahuan merupakan daerah persinggungan antara benar dan dipercaya. Pengetahuan bisa diperoleh dari akal sehat yaitu melalui pengalaman secara tidak sengaja yang bersifat sporadis dan kebetulan sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan, cenderung bersifat kabur dan samar dan karenanya merupakan pengetahuan yang tidak teruji. Ilmu pengetahuan (sains) diperoleh berdasarkan analisis dengan langkah-langkah yang sistematis (metode ilmiah) menggunakan nalar yang logis. Sarana berpikir ilmiah adalah bahasa, matematika dan statistika. Metode ilmiah menggabungkan cara berpikir deduktif dan induktif sehingga menjadi jembatan penghubung antara penjelasan teoritis dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris. Secara rasional, ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, sedangkan secara empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai dengan fakta dari yang tidak. Dengan metode ilmiah berbagai penjelasan teoritis (atau juga naluri) dapat diuji, apakah sesuai dengan kenyataan empiris atau tidak. 

Kebenaran pengetahuan dilihat dari kesesuaian artinya dengan fakta yang ada, dengan putusan-putusan lain yang telah diakui kebenarannya dan tergantung kepada berfaedah tidaknya teori tersebut bagi kehidupan manusia. Jika seseorang ingin membuktikan kebenaran suatu pengetahuan maka cara, sikap, dan sarana yang digunakan untuk membangun pengetahuan tersebut harus benar. Apa yang diyakini atas dasar pemikiran mungkin saja tidak benar karena ada sesuatu di dalam nalar kita yang salah. Demikian pula apa yang kita yakini karena kita amati belum tentu benar karena penglihatan kita mungkin saja mengalami penyimpangan. Itulah sebabnya ilmu pengetahan selalu berubah-ubah dan berkembang.

B. Apa yang bisa diketahui manusia

Immanuel Kant (lahir di Königsberg, 22 April 1724 – meninggal di Königsberg, 12 Februari 1804 pada umur 79 tahun) adalah seorang filsuf Jerman. Karya Kant yang terpenting adalah Kritik der Reinen Vernunft, 1781. Dalam bukunya ini ia “membatasi pengetahuan manusia”. Atau dengan kata lain “apa yang bisa diketahui manusia.” Ia menyatakan ini dengan memberikan tiga pertanyaan:
  • Apakah yang bisa kuketahui?

  • Apakah yang harus kulakukan?

  • Apakah yang bisa kuharapkan?
Pertanyaan ini dijawab sebagai berikut:
  • Apa-apa yang bisa diketahui manusia hanyalah yang dipersepsi dengan panca indra. Lain daripada itu merupakan “ilusi” saja, hanyalah ide.

  • Semua yang harus dilakukan manusia harus bisa diangkat menjadi sebuah peraturan umum. Hal ini disebut dengan istilah “imperatif kategoris”. Contoh: orang sebaiknya jangan mencuri, sebab apabila hal ini diangkat menjadi peraturan umum, maka apabila semua orang mencuri, masyarakat tidak akan jalan.

  • Yang bisa diharapkan manusia ditentukan oleh akal budinya. Inilah yang memutuskan pengharapan manusia.
C. Sumber-sumber pengetahuan

Sebelum kita memasuki pembahasan inti dari makalah ini, maka perlu kiranya kita mengetahui pengertian dari ilmu pengetahuan.
Dalam komperensi ilmu pengetahuan nasional (KIPNAS) ini LIPI yang berlangsung di Jakarta pada tanggal 15-19 September 1981 di dasarkan agar dipergunakan terminologi ilmu untuk science dan pengetahuan untuk Knowledge adapun alasannya yaitu:
  1. Ilmu (Spesies) adalah sebagian dari pengetahuan (Genus)

  2. Dengan demikian maka ilmu adalah pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu yaitu ciri-ciri ilmiah atau ilmu adalah sinonim dengan pengetahuan ilmiah (Scientific knowledge)

  3. Dalam buku bahasa Indonesia berdasarkan hukum D (diterangkan) dan M (menerangkan) maka ilmu pengetahuan adalah ilmu (D) yang bersifat pengetahuan (M) dan penyatuan ini pada hakikatnya adalah salah sebab ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang bersifat ilmiah

  4. Kata ganda dari dua kata benda yang termasuk kategori  yang sama biasanya menunjukkan dua objek yang berbeda seperti laki bini (laki dan bini) dan emas perak (emas dan perak) penafsiran yang sama, maka ilmu pengetahuan dapat diartikan sebagai ilmu dan pengetahuan.
Ternyata ada juga yang berpendapat bahwa:
  1. Ilmu termasuk genus dimana terdapat dapat banyak spesies seperti ilmu kebathinan, ilmu agama, ilmu filsafat, dan ilmu pengetahuan

  2. Terminologi ilmu pengetahuan sinomia dengan scientific knowledge

  3. Ilmu adalah sinomia dengan knowledge danpengetahuan tentang science dimana  berdasarkan hukum DM maka ilmu pengetahuan adalah ilmu (Knowledge) yang bersifat pengetahuan (scientific)
Jika demikian, ilmu pengetahuan hanya merupakan istilah yang lazim dibahasakan orang-orang tetapi tidak mampu memberikan defenisi yang jelas, tetapi orang pasti sudah mengerti maksud ilmu pengetahuan bila mendengarnya
Di dalam makalah ini akan kami uraikan  beberapa defenisi istilah ilmu pengetahuan berdasarkan beberapa buku filsafat.
Kata “Ilmu” merupakan terjemahan dari kata (Science) yang secara etimologi berasal dari bahasa latin (scinre) artinya “to Know”. Dalam pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam yang sifatnya kuantitatif dan objektif.
Dari pengungkapan para ahli kita dapat menarik kesimpulan sebagi berikut:
  1. Tidak semua permasalahan yang dipersoalkan manusia dalam hidup dan kehidupannya dapat dijawab dengan tuntas oleh ilmu pengetahuan itu.

  2. Nilai kebenaran ilmu pengetahuan itu bersifat positif dalam arti sampai saat sekarang ini dan juga bersifat relatif atau nisbi dalam arti tidaklah mutlak kebenarannya

  3. Batas dan realitivitas ilmu pengetahuan bermuara pada filsafat, dalam arti bahwa semua permasalahan yang berada di luar atau di atas jangkauan dari ilmu pengetahuan itu diserahkanlah kepada filsafat untuk menjawabnya.
Dengan kita memasuki lapangan  filsafat dengan mencoba merenungkan semua permasalahan manusia yang belum tuntas dijawab oleh ilmu pengetahuan itu.
Dalam kajian filsafat ilmu sumber-sumber pengetahuan yang diperoleh manusia melalui: Pengalaman, intuisi, agama (wahyu), filsafat dan ilmu

D. Cara – cara memperoleh dan mengembangkan pengetahuan

Dalam filsafat ilmu, cara memperoleh dan mengembangkan pengetahuan adalah melaui sebuah rangkaian prosedur atau metode/tekhnik tertentu yang lazimnya disebutnya metode ilmiah

a.  Pengertian metoda  Ilmiah

Menurut Soerjono Soemargono (1993 : 17), istilah metoda berasal dari  bahasa  Latin  methodos,  yang  secara  umum  artinya  cara  atau jalan                       untuk memperoleh              pengetahuan       sedangkan metoda ilmiah adalah cara atau jalan untuk memperoleh pengetahuan ilmiah.

The  Liang  Gie  (1991  :  110),  menyatakan  bahwa  metoda  ilmiah adalah prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, tata  langkah,  dan  cara  teknis  untuk  memperoleh  pengetahuan  baru atau memperkembangkan pengetahuan yang telah ada.
Dalam  beberapa  literatur  seringkali  metoda  dipersamakan  atau dicampuradukkan dengan pendekatan maupun teknik. Metoda, (methode), pendekatan (approach), dan teknik (technique) merupakan tiga hal yang berbeda walaupun bertalian satu sama lain (The Liang Gie,  1991:116).  Dengan  mengutip  pendapat  benerapa  pakar,  The Liang Gie menjelaskan perbedaan ketiga hal tersebut sebagai berikut. Pendekatan  pada pokoknya adalah ukuran-ukuran untuk memilih masalah-masalah dan data yang bertalian, sedangkan metoda adalah prosedur untuk mendapatkan dan mempergunakan data. Pendekatan dalam  menelaah  suatu  masalah  dapat  dilakukan  berdasarkan  atau dengan  memakai  sudut  tinjauan  dari  ilmu-ilmu  tertentu,  misalnya psikologi, sosiologi,  politik,  dst. Dengan pendekatan berdasarkan psikologi, maka masalah tersebut dianalisis dan dipecahkan berdasarkan konsep-konsep psikologi. Sedangkan       bila       masalah tersebut  ditinjau  berdasarkan  pendekatan  sosiologis,  maka  konsep- konsep sosiologi yang dipakai untuk menganalisis dan memecahkan masalah tersebut.
Pengertian metoda juga tidak sama dengan teknik. Metoda ilmiah adalah      berbagai         prosedur                yang             mewujudkan pola-pola                          dan                tata langkah  dalam  pelaksanaan  penelitian  ilmiah.  Pola  dan  tata  langkah prosedural  tersebut  dilaksanakan  dengan  cara-cara  operasional  dan teknis yang lebih rinci. Cara-cara itulah yang mewujudkan teknik. Jadi, teknik adalah suatu cara operasional teknis yang seringkali bercorak rutin,  mekanis,  atau  spesialistis  untuk  memperoleh  dan  menangani data dalam penelitian (The Liang Gie (1991 : 117).

b.  Unsur-unsur metoda ilmiah

Metoda ilmiah   yang merupakan suatu prosedur sebagaimana digambarkanoleh         The     Liang       Gie,      memuat            berbagai           unsur   atau komponen  yang  saling  berhubungan.  Unsur-unsur  utama  metoda ilmiah  menurut  The  Liang  Gie  (1991  :  118)  adalah  pola  proSedural, tata langkah, teknik, dan instrument..
Pola prosedural, antara lain terdiri dari: pengamatan, percobaan, peng-ukuran,  survai,  deduksi,  induksi,  dan  analisis.  Tata  langkah, mencakup  :  penentuan  masalah,  perumusan  hipotesis  (bila  perlu), pengumpulan data, penurunan kesimpulan,            dan      pengujian         hasil. Teknik,    antara   lain terdiri dari   : wawancara,    angket, tes, dan perhitungan.  Aneka  instrumen  yang  dipakai  dalam  metoda  ilmiah antara  lain  :  pedoman  wawancara,  kuesioner,  timbangan,  meteran, komputer.

c.  Macam-macam Metoda ilmiah

Johson  (2005)          dalam  arkelnya  yang  berjudul  ”Educational Research  :  Quantitative  and  Qualitative”,  yang  termuat  dalam  situs internet membedakan metoda  ilmiah  menjadi  dua  metoda  deduktif  dan  metoda  induktif. Menurut Johnson, metode deduktif terdiri tiga langkah utama, yaitu : first, state the hypothesis (based on theory or research literature); nex, collect  data  to  test  hypothesis;  finally,  make  decision  to  accept  or reject  the  hypothesis. Sedangkan  tahapan  utama  metoda  induktif menurut Johnson adalah : first, observe the world; next, search for a pattern in what is observed; and finally, make a generalization about what  is  occuring.  Kedua  metoda  tersebut selanjutnya  oleh  Johnson divisualisasikan sebagai berikut.
Metoda deduktif merupakan metoda ilmiah yang diterapkan dalam penelitian kuantitatif. Dalam metoda ini teori ilmiah yang telah diterima kebenarannya dijadikan acuan dalam mencari kebenaran selanjutnya. Sedangkan        metoda      induktif      merupakan        metoda      yang     diterapkan dalam penelitian kualitatif.           Penelitian ini dimulai dengan pengamatan dan diakhiri dengan penemuan teori.

1)  Metoda Deduktif

Jujun  S.  Suriasumantri  dalam  bukunya  Ilmu  dalam  Perspektif Moral,  Sosial,  dan  Politik  (1996  :  6)  menyatakan  bahwa  pada dasarnya  metoda  ilmiah  merupakan  cara  ilmu  memperoleh  dan menyusun tubuh pengetahuannya berdasarkan :a)      kerangka pemikiran  yang  bersifat  logis  dengan  argumentasi  yang  bersifat konsisten  dengan  pengetahuan  sebelumnya  yang  telah  berhasil disusun;  b)  menjabarkan  hipotesis  yang  merupakan  deduksi  dari kerangka pemikiran tersebut;  dan c) melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud untuk         menguji kebenaran      pernyataannya secara faktual.
Selanjutnya Jujun  menyatakan bahwa kerangka  berpikir ilmiah yang       berintikan proses logico-hypothetico-verifikatifn ini pada dasarnya terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut (2005 : 127-128).

a) Perumusan masalah, yang merupakan         pertanyaan mengenai  objek  empiris  yang  jelas  batas-batasnya  serta dapat diidentifikasikan faktor-faktor yang terkait di dalamnya.

b) Penyusunan kerangka berpikir dalam penyusunan hipotesis yang merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang  mungkin  terdapat  antara  berbagai  faktor  yang  saling mengait dan membentuk      konstelasi permasalahan.
Kerangka  berpikir  ini  disusun  secara  rasional  berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan  faktor-faktor  empiris  yang  relevan  dengan permasalahan.

c) Perumusan  hipotesis  yang  merupakan  jawaban  sementara atau dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari dari kerangka berpikir yang dikembangkan.

d) Pengujian  hipotesis  yang  merupakan  pengumpulan  fakta- fakta  yang  relevan  dengan  hipotesis,  yang  diajukan  untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipoteisis tersebut atau tidak.

e) Penarikan  kesimpulan  yang  merupakan  penilaian  apakah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima.

2)  Metoda Induktif
Metoda induktif merupakan metoda ilmiah yang diterapkan dalam penelitian  kualitatif.  Metoda  ini  memiliki  dua  macam  tahapan  : tahapan  penelitian  secara  umum  dan  secara  siklikal 
 (Moleong, 2005 : 126).

a)  Tahapan penelitian secara umum

Tahapan penelitian secara umum secara garis besar terdiri dari tiga tahap utama, yaitu (1)tahap pralapangan, (2)tahap pekerjaan lapangan, dan (3)  tahap analisis data. Masing- masing tahap tersebut terdiri dari beberapa langkah.

b)  Tahapan penelitian secara siklikal
Menurut      Spradley  (Moleong,    2005 :148), tahap penelitian kualitatif, khususnya dalam etnografi  merupakan proses yang berbentuk lingkaran         yang     lebih dikenal dengan    proses penelitian siklikal, yang terdiri dari langkah-langkah:(1) pengamatan  deskriptif,  (2)  analisis  demein,  (3)  pengamatan terfokus,  (4)  analisis  taksonomi,  (5)  pengamatan  terpilih,  (6) analisis komponen, dan (7) analisis tema.

E. Metode Untuk Memperoleh Pengetahuan

a.  Metode Empirisme

Empirisme berasal dari kata Yunani yaitu “empiris” yang berarti pengalaman inderawi. Oleh karena itu empirisme dinisbatkan kepada faham yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalanan dan yang dimaksudkan dengannya adalah baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia. Asal kata empirisme adalah empiria yang berarti kepercayaan terhadap pengalaman. Bahan yang diperoleh dari pengalaman diolah oleh akal, sedangkan yang merupakan sumber pengetahuan adalah pengalaman karena pengalamanlah yang memberikan kepastian yang diambil dari dunia fakta. Empirisme berpandangan bahwa pernyataan yang tidak dapat dibuktikan melalui pengalaman adalah tidak berarti atau tanpa arti. Ilmu haru sdapat diuji melalui pengalaman. Dengan demikian, kebenaran yang diperoleh bersifat a posteriori yang berarti setelah pengalaman (post to experience).

Tokoh-tokoh empirisme antara lain Francis Bacon (1561-1626), Thomas Hobbes (1588-1679), dan John Locke (1632-1704). Francis Bacon telah meletakkan dasar-dasar empirisme dan menyarankan agar penemuan-penemuan dilakukan dengan metode induksi. Menurutnya ilmu akan berkembang melalui pengamatan dalam ekperimen serta menyusun fakta-fakta sebagai hasil eksperimen.

Pandangan Thomas Hobbes sangat mekanistik. Karena merupakan bagian dari dunia, apa yang terjadi pada manusia atau yang dialaminya dapat diterangkan secara mekanik. Ini yang menyebabkan Thomas Hobbes dipandang sebagai penganjur materialisme. Sesuai dengan kodratnya manusia berkeinginan mempertahankan kebebasan dan menguasai orang lain. Hal ini menyebabkan adanya ungkapan homo homini lupus yang berarti bahwa manusia adalah srigala bagi manusia lain.

Menurut aliran ini bahwa manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalaman indranya. Bapak aliran ini adalah John Lock (1632-1704) dengan teorinya “tabula rasa” yang artinya secara bahasa adalah meja lilin.  Menurut paham empirisme, metode untuk memperoleh pengetahuan didasarkan pada pengalaman yang bersifat empiris, yaitu pengalaman yang bisa dibuktikan tingkat kebenarannya melalui pengamalan indera manusia. Seperti petanyaan-pertanyaan bagaimana orang tahu es membeku? Jawab kaum empiris adalah karena saya melihatnya (secara inderawi/panca indera), maka pengetahuan diperoleh melalui perantaraan indera. Proses terjadinya pengetahuan menurut penganut empirisme berdasarkan pengalaman akibat dari suatu objek yang merangsang alat inderawi, kemudian menumbuhkan rangsangan saraf yang diteruskan ke otak. Di dalam otak, sumber rangsangan sebagaimana adanya dan dibentuklah tanggapan-tanggapan mengenai objek yang telah merangsang alat inderawi ini. Kesimpulannya adalah metode untuk memperoleh pengetahuan bagi penganut empirisme adalah berdasarkan pengalaman inderawi atau pengalaman yang bisa ditangkap oleh panca indera manusia.

Kelemahan aliran ini adalah sangat banyak :
  1. Indera terbatas ; Benda yang jauh kelihatan kecil.

  2. Indera menipu ; Orang yang sedang sakit malaria, gula rasanya pahit.

  3. Terkadang objek yang menipu, seperti ilusi dan patamorgana.

  4. Kekurangan terdapat pada indera dan objek sekaligus; indera (dalam hal ini mata) tidak bisa melihat kerbau secara keseluruhan, begitu juga kerbau tidak bisa dilihat secara keseluruhan.
Pada dasarnya Empirisme sangat bertentangan dengan Rasionalisme. Rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan yang sejati berasal dari ratio, sehingga pengenalan inderawi merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur. sebaliknya Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman sehingga pengenalan inderawi merupakan pengenalan yang paling jelas dan sempurna.
Seorang yang beraliran Empirisme biasanya berpendirian bahwa pengetahuan didapat melalui penampungan yang secara pasip menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan betapapun rumitnya dapat dilacak kembali dan apa yang tidak dapat bukanlah ilmu pengetahuan. Empirisme radikal berpendirian bahwa semua pengetahuan dapat dilacak sampai kepada pengalaman inderawi dan apa yang tidak dapat dilacak bukan pengetahuan. Lebih lanjut penganut Empirisme mengatakan bahwa pengalaman tidak lain akibat suatu objek yang merangsang alat-alat inderawi, kemudian di dalam otal dipahami dan akibat dari rangsangan tersebut dibentuklah tanggapan-tanggapan mengenai objek yang telah merangsang alat-alat inderawi tersebut.
Empirisme memegang peranan yang amat penting bagi pengetahuan, malah barangkali merupakan satu-satunya sumber dan dasar ilmu pengetahuan menurut penganut Empirisme. Pengalaman inderawi sering dianggap sebagai pengadilan yang tertinggi.
b. Tokoh-tokohnya.
1. Francis Bacon (1210 -1292)
2. Thomas Hobbes ( 1588 -1679)
3. John Locke ( 1632 -1704)
4. George Berkeley ( 1665 -1753)
5. David Hume ( 1711 -1776)
6. Roger Bacon ( 1214 -1294)
b.  Metode Rasionalisme
Para penganut rasionalisme berpandangan bahwa satu-satunya sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah rasio (akal) seseorang. Perkembangan pengetahuan mulai pesat pada abad ke-18. Orang yang dianggap sebagai bapak rasionalisme adalah Rene Descartez (1596-1650) yang juga dinyatakan sebagai bapak filsafat modern. Semboyannya yang terkenal adalah cogito ergo sum (saya berpikir, jadi saya ada).
Berbeda dengan penganut empirisme, karena rasionalisme memandang bahwa metode untuk memperoleh pengetahuan adalah melalui akal pikiran. Bukan berarti rasionalisme menegasikan nilai pengalaman, melainkan pengalaman dijadikan sejenis perangsang bagi akal pikiran untuk memperoleh suatu pengetahuan. Menurut Rene Descartes (Bapak Rasionalisme), bahwa kebenaran suatu pengetahuan melalui metode deduktif melalui cahaya yang terang dari akal budi. Maka akal budi dipahamkan sebagai:
-   Sejenis perantara khusus, yang dengan perantara itu dapat dikenal kebenaran.
-   Suatu teknik deduktif yang dengan memakai teknik tersebut dapat ditemukan kebenaran-kebenaran yaitu dengan melakukan penalaran.
Fungsi pengalaman inderawi bagi penganut rasionalisme sebagai bahan pembantu atau sebagai pendorong dalam penyelidikannya suatu memperoleh kebenaran.

Rasionalisme adalah merupakan faham atau aliran atau ajaran yang berdasarkan ratio, ide-ide yang masuk akal.Selain itu, tidak ada sumber kebenaran yang hakiki. Zaman Rasionalisme berlangsung dari pertengahan abad ke XVII sampai akhir abad ke XVIII. Pada zaman ini hal yang khas bagi ilmu pengetahuan adalah penggunaan yang eksklusif daya akal budi (ratio) untuk menemukan kebenaran.

Ternyata, penggunaan akal budi yang demikian tidak sia-sia, melihat tambahan ilmu pengetahuan yang besar sekali akibat perkembangan yang pesat dari ilmu-ilmu alam. Maka tidak mengherankan bahwa pada abad-abad berikut orang-orang yang terpelajar Makin percaya pada akal budi mereka sebagai sumber kebenaran tentang hidup dan dunia. Hal ini menjadi menampak lagi pada bagian kedua abad ke XVII dan lebih lagi selama abad XVIII antara lain karena pandangan baru terhadap dunia yang diberikan oleh Isaac Newton (1643 -1727). Berkat sarjana geniaal Fisika Inggeris ini yaitu menurutnya Fisika itu terdiri dari bagian-bagian kevil (atom) yang berhubungan satu sama lain menurut hukum sebab akibat.

Semua gejala alam harus diterangkan menurut jalan mekanis ini. Harus diakui bahwa Newton sendiri memiliki suatu keinsyafan yang mendalam tentang batas akal budi dalam mengejar kebenaran melalui ilmu pengetahuan. Berdasarkan kepercayaan yang makin kuat akan kekuasaan akal budi lama kelamaan orang-orang abad itu berpandangan dalam kegelapan. Baru dalam abad mereka menaikkan obor terang yang menciptakan manusia dan masyarakat modern yang telah dirindukan, karena kepercayaan itu pada abad XVIII disebut juga zaman Aufklarung (pencerahan).

b. Tokoh-tokohnya

1. Rene Descartes (1596 -1650)
2. Nicholas Malerbranche (1638 -1775)
3. B. De Spinoza (1632 -1677 M)
4. G.W.Leibniz (1946-1716)
5. Christian Wolff (1679 -1754)
6. Blaise Pascal (1623 -1662 M)


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka perlu disimpulkan beberapa hal :
  1. Ilmu pengetahuan adalah ilmu yang mencoba menjawab segala permasalahan atau gejala-gejala alam dan lingkungan atau masyarakat dengan menggunakan metode-metode ilmiah

  2. Ilmu pengetahuan bersifat relatif, artinya ilmu pengetahuan itu tidak kaku sehingga ia akan terus berkembang seiring dengan kerja dan usaha manusia dalam memenuhi kebutuhannya akan kebenaran dan pemanfaatan hidup yang lebih berarti. Juga teori-teori yang telah dibangun oleh para ilmuwan tidak akan bertahan sepanjang masa. ia akan dibantah oleh teori-teori baru yang lebih mendekati kepada kebenaran dan efesiensi kerja ilmiah.

  3. Rasionalisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang berpendirian bahwa sumber pengetahuan yang mencukupi dan dapat dipercaya adalah akal. Rasionalisme tidak mengingkari peran pengalaman, tetapi pengalaman dipandang sebagai perangsang bagi akal atau sebagai pendukung bagi pengetahuan yang telah ditemukan oleh akal. Akal dapat menurunkan kebenaran-kebenaran dari dirinya sendiri melalui metode deduktif. Rasionalisme menonjolkan “diri” yang metafisik, ketika Descartes meragukan “aku” yang empiris, ragunya adalah ragu metafisik.

  4. Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang berpendapat bahwa empiri atau pengalamanlah yang menjadi sumber pengetahuan. Akal bukanlah sumber pengetahuan, akan tetapi akal berfungsi mengolah data-data yang diperoleh dari pengalaman. Metode yang digunakan adalah metode induktif. Jika rasionalisme menonjolkan “aku” yang metafisik, maka empirisme menonjolkan “aku” yang empiris.





DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, Asmoro.  Filsafat Umum. Cet. V; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003.
Anees, Bambang Q- dan Radea Juli A. Hambali. Filsafat Untuk Umum. Cet. I; Jakarta: Prenada Media, 2003.
Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Cet. IX; Yogyakarta: Kanisius, 1993.
Ravertz, Jerome R.  The Philosophy of Science. Diterjemahkan oleh Saut Pasaribu dengan judul Filsafat Ilmu, Sejarah dan Ruang Lingkup Bahasan. Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.
Mustansyir, Rizal  dan Misnal Munir. Filsafat Ilmu. Cet. VII; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.
Nakosteen, Mehdi. History of Islamic Origins of Western Education A. D. 800-1350 with an Introduction to Medieval Muslim Education. Diterjemahkan oleh Joko S. Kahhar dan Supriyanto Abdullah dengan judul Kontribusi Islam atas dunia Intelektual Barat: Deskripsi Analisis abad kemasan Islam. Cet. I; Surabaya: Risalah Gusti, 1996.
Suriasumantri, Jujun S. Ilmu dalam perspektif. Cet. XVI; Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003.
Tafsir, Ahmad. Filsafat Umum. Cet. VI; Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1998.
Titus, Harold H., et al. Living Issues in philosophy. Diterjemahkan oleh H.M. Rasjidi dengan judul Persoalan-Persoalan Filsafat. Cet.  I; Jakarta: PT Bulan Bintang, 1984.
Zaqzu>q, Mah}mu>d H{amdiy. Dira>sa>t fi> al-Falsafat al-H{adi>sah. Cet. II; Kairo: Da>r al-T{iba>‘at al-Muh}ammadiyyah, 1988.

Selasa, 11 Maret 2014

Dinasti Saudi: Dari Mana Asal Mereka? dan Siapa Sesungguhnya Nenek-Moyangnya..?


Penelitian dan pemaparan Mohammad Sakher:
Setelah menemukan fakta-fakta di bawah ini, Rejim Saudi memerintahkan untuk membunuhnya.
King_Saud-1957
Raja Saud-1957
Apakah anggota keluarga Saudi berasal dari Suku Anza bin Wa'il seperti pengakuannya?
Apakah agama mereka Islam?
Apakah mereka asli Bangsa Arab?
Di Najd, pada tahun 851 H serombongan bani Al-Masalikh, keturunan Suku Anza, membentuk sebuah kafilah dipimpin oleh Sahmi bin Hathlul, ditugaskan untuk membeli bahan makanan, biji-bijian gandum dan jagung ke Iraq. Ketika sampai di Bashra, mereka langsung menuju ke sebuah toko pakan yang pemiliknya seorang Yahudi bernama Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe. Ketika sedang berlangsung tawar-menawar, Yahudi si pemilik toko bertanya kepada mereka: "Berasal dari suku manakah Anda?". Mereka menjawab: "Kami berasal dari Bani Anza", salah satu Suku Al-Masalikh". Mendengar nama suku itu disebut,
orang Yahudi itu memeluk mereka dengan mesra sambil mengatakan bahwa dirinya juga berasal dari Suku Al-Masalikh, namun menetap di Bashra, Iraq karena permusuhan keluarga antara ayahnya dengan anggota Suku Anza lainnya.
Setelah Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe mengatakan kepada mereka ceritera yang direkayasa mengenai dirinya, dia kemudian memerintahkan kepada pembantunya untuk menaikkan barang-barang belanjaan kafilah itu ke atas Unta-unta mereka. Sikap Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe yang dinilai baik dan tulus itu membuat kagum rombongan bani Masalikh dan sekaligus menimbulkan kebanggaan mereka karena bertemu saudara sesama suku di Iraq - dimana mereka mendapatkan bahan makanan yang sangat mereka perlukan, mereka percaya kepada setiap kata yang diucapkan Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe, karena dia seorang pedagang kaya komoditi pakan, mereka menyukai Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe (walaupun sebenarnya dia bukan orang Arab dari suku Al-Masalikh, tapi seorang Yahudi yang berpura-pura)
Saat kafilah sudah siap akan kembali ke Najd, pedagang orang Yahudi itu meminta ijin menumpang dengan mereka pergi ke tempat asalnya, Najd. Permintaan pedagang Yahudi itu diterima dengan senang hati oleh rombongan bani Al-Masalikh.
Akhirnya Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe sampai di Najd. Di Najd ia mulai menyebarluaskan propaganda dirinya dibantu beberapa orang dari bani Al-Masalikh yang baru tiba bersama-'sama dia dari Bashra. Propagandanya berhasil, sejumlah orang mendukungnya, tetapi ditentang oleh yang lain dipimpin oleh Shaikh Saleh Salman Abdullah Al-Tamimi, ulama di kota Al-Qasim, yang wilayah dakwahnya meliputi Najd, Yaman dan Hijaz. Ia mengusir Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe ( nenek moyang Keluarga Saudi yang saat ini berkuasa ) dari kota Al-Qasim ke kota Al-Ihsa, di sana ia mengganti namanya menjadi Markhan bin Ibrahim Musa . Kemudian dia pindah ke daerah Dir´iya dekat Al-Qatif. Di daerah ini dia mulai menyebarkan ceritera rekayasa kepada penduduk mengenai Perisai Nabi Muhammad Shallalahu 'Alaihi wa Sallam yang dirampas sebagai rampasan perang oleh orang musyrik Arab sewaktu Perang Uhud. Perisai itu kemudian dijual oleh orang musyrik Arab kepada Suku Yahudi Bani Qunaiqa dan menyimpannya sebagai koleksi barang berharga. Perlahan tapi pasti, Markhan bin Ibrahim Musa menanamkan pengaruhnya di antara orang-orang Badui melalui ceritera fiktif yang hal ini memberitahu kita bagaimana berpengaruhnya suku-suku Yahudi di Arab dengan menempati kedudukan terhormat. Dia menjadi orang penting diantara suku Badui dan memutuskan untuk tetap tinggal di kota Dir´iya, dekat Al-Qatif kemudian memutuskan menjadikannya sebagai ibukota di Teluk Persia. Ia bercita-cita menjadikan kota itu sebagai batu loncatan untuk membangun kerajaan Yahudi di Tanah Arab.
Dalam rangka memenuhi ambisisnya, dia mulai mendekati dan mempengaruhi suku Arab Badui padang pasir untuk mendukung posisinya, kemudian menobatkan dirinya sebagai raja mereka.
Pada saat yang genting ini, Suku Ajaman bersama-sama dengan Suku Bani Khalid mencium bahaya Yahudi licik ini dan sangat mengkhawatirkan rencana jahatnya, karena dia telah dapat mengukuhkan identitasnya sebagai orang Arab. Mereka sepakat untuk menghentikannya, kemudian menyerang kota Dar'iya dan berhasil menaklukannya, tetapi sebelum menawan Markhan bin Ibrahim Musa, dia melarikan diri.
Dalam pelariannya, Yahudi nenek moyang Keluarga Saudi (Mordakhai) mencari perlindungan di sebuah perkebunan Al-Malibiid-Ghusaiba dekat Al-Arid, milik orang Arab. Sekarang kota itu bernama Al-Riyadh.
Mordakhai meminta perlindungan politik kepada pemilik perkebunan. Pemiliknya yang ramah itu kemudian segera memberikan tempat perlindungan. Namun belum juga sampai sebulan dia tinggal di perkebunan itu, Mordakhai membunuh pemilik beserta anggota keluarganya, kemudian mengarang ceritera bahwa mereka dibunuh oleh perampok. Dia juga mengaku telah membeli real estate dari pemiliknya sebelum kejadian tragis itu. Maka tinggallah dia disana sebagai pemilik tanah yang baru, kemudian daerah itu diberi nama baru Al-Di'riya, nama yang sama dengan tempat sebelumnya yang ia tinggalkan.
Yahudi nenek moyang Keluarga Saudi (Mordakhai) segera membangun sebuah "Guest House" yang disebutnya "Madaffa" di atas tanah yang direbut dari korbannya. Kemudian berkumpullah disekelilinya kelompok munafik yang mulai menyebarkan propaganda bohong bahwa Mordakhai adalah seorang Seikh Arab terkemuka. Mereka merencanakan membunuh Sheikh Saleh Salman Abdullah Al-Tamimi, musuh bebuyutan Mordakhai dan berhasil membunuhnya di sebuah mesjid di kota Al-Zalafi.
Mordakhai puas telah berhasil membunuh Sheikh Saleh Salman Abdullah Al- Tamimi, kemudian menjadikan Al-Dir'iya sebagai tempat tinggalnya. Di Al-Dir'iya dia berpoligami dan beranak'pinak, anak-anaknya diberi nama asli Arab.
Sejak saat itu keturunan dan kekuasaan mereka tumbuh berkembang di bawah nama Suku Saudi, mereka juga mengikuti jejak Mordakhai dan kegiatannya dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi serta berkonspirasi melawan bangsa Arab. Secara ilegal mereka menguasai daerah pedalaman dan tanah-tanah perkebunan, membunuh setiap orang yang mencoba menghalangi rencana jahat mereka. Untuk mempengaruhi penduduk di wilayah itu, mereka menggunakan segala macam jenis tipu daya untuk mencapai tujuannya: mereka suap orang-orang yang tidak sefaham dengan uang dan perempuan. Mereka suap penulis sejarah untuk menuliskan biografi sejarah keluarganya yang bersih dari kejahatan, dibuatkannya silsilah keluarga bersambung kepada Suku Arab terhormat seperti Rabi'?, Anza dan Al-Masalikh.
Seorang munafik zaman kiwari bernama Mohammad Amin Al-Tamimi - Direktur/Manager Perpustakaan Kontemporer Kerajaan Saudi, menyusun garis keturunan (Family Tree) untuk Keluarga Yahudi ini (Keluarga Saudi), menghubungkan garis keturunan mereka kepada Nabi Muhammad Shallalahu 'Alaihi wa Sallam . Sebagai imbalan pekerjaannnya itu, ia menerima imbalan sebesar 35.000 (Tiga Puluh Lima Ribu) Pound Mesir dari Duta Besar Saudi Arabia di Kairo pada tahun 1362 H atau 1943 M. Nama Duta Besar Saudi Arabia itu adalah Ibrahim Al-Fadel.
Seperti disebutkan di atas, Yahudi nenek moyang Keluarga Saudi (Mordakhai), yang berpoligami dengan wanita-wanita Arab melahirkan banyak anak, saat ini pola poligami Mordakhai dilanjutkan oleh keturunannya, dan mereka bertaut kepada warisan perkawinan itu.
Salah seorang anak Mordakhai bernama Al-Maqaran, (Yahudi: Mack-Ren) mempunyai anak bernama Muhammad, dan anak yang lainnya bernama Saud, dari keturunan Saud inilah Dinasti Saudi saat ini.
Keturunan Saud (Keluarga Saud) memulai melakukan kampanye pembunuhan pimpinan terkemuka suku-suku Arab dengan dalih mereka murtad, mengkhianati agama Islam, meninggalkan ajaran-ajaran Al-Quran, dan keluarga Saud membantai mereka atas nama Islam.
Di dalam buku sejarah Keluarga Saudi halaman 98-101, penulis pribadi sejarah keluarga Saudi menyatakan bahwa Dinasti Saudi menganggap semua penduduk Najd menghina tuhan, oleh karena itu darah mereka halal, harta-bendanya dirampas, wanita-wanitanya dijadikan selir, tidak seorang islampun dianggap benar, kecuali pengikut sekte Muhammad bin Abdul Wahhab (yang aslinya juga keturunan Yahudi Turki). Doktrin Wahhabi memberikan otoritas kepada Keluarga Saudi untuk menghancurkan perkampungan dan penduduknya, termasuk anak-anak dan memperkosa wanitanya, menusuk perut wanita hamil, memotong tangan anak-anak, kemudian membakarnya. Selanjutnya mereka diberikan kewenangan dengan Ajarannya yang Kejam ( Brutal Doctrin ) untuk merampas semua harta kekayaan milik orang yang dianggapnya telah menyimpang dari ajaran agama karena tidak mengikuti ajaran Wahhabi.
Keluarga Yahudi yang jahat dan mengerikan ini melakukan segala jenis kekejaman atas nama sekte agama palsu mereka (sekte Wahhabi) yang sebenarnya diciptakan oleh seorang Yahudi untuk menaburkan benih-benih teror di dalam hati penduduk di kota-kota dan desa-desa. Pada tahun 1163 H, Dinasti Yahudi ini mengganti nama Semenanjung Arabia dengan nama keluarga mereka, menjadi Saudi Arabia, seolah-olah seluruh wilayah itu milik pribadi mereka, dan penduduknya sebagai bujang atau budak mereka, bekerja keras siang dan malam untuk kesenangan tuannya, yaitu Keluarga Saudi.
Mereka dengan sepenuhnya menguasai kekayaan alam negeri itu seperti miliknya pribadi. Bila ada rakyat biasa mengemukakan0 (sembilan pukuh) Suite rooms di Grand Hotel dengan harga $1 juta semalamnya. Dapatkah kita memberikan komentar terhadap pemborosan yang dilakukan keluarga kerajaan seperti itu, yang pantas adalah: Dihukum pancung di lapangan terbuka.
- Pada tahun 1960'an, pemancar radio "Sawt Al-Arab" di Kairo, Mesir, dan pemancar radio di Sana'a, Yaman, membuktikan bahwa nenek moyang Keluarga Saudi adalah Yahudi.
Kesaksian bahwa nenek moyang Keluarga Saudi adalah Yahudi:
- Raja Faisal Al-Saud tidak bisa menyanggah bahwa keluarganya adalah keluarga Yahudi ketika memberitahukan kepada the WASHINGTON POST pada tanggal 17 September 1969, dengan menyatakan bahwa: "Kami, Keluarga Saudi, adalah keluarga Yahudi: Kami sepenuhnya tidak setuju dengan setiap penguasa Arab atau Islam yang memperlihatkan permusuhannya kepada Yahudi, sebaliknya kita harus tinggal bersama mereka dengan damai. Negeri kami, Saudi Arabia merupakan sumber awal Yahudi dan nenek-moyangnya, dari sana menyebar ke seluruh dunia". Itulah pernyataan Raja Faisal Al-Saud bin Abdul Aziz.
Hafb, kakekku, Saud Awal, menceriterakan saat menawez Wahbi, Penasihat Hukum Keluarga Kerajaan Saudi menyebutkan di dalam bukunya yang berjudul "Semenanjung Arabia" bahwa Raja Abdul Aziz yang mati tahun 1953 mengatakan: "Pesan Kami (Pesan Saudi) dalam menghadapi oposisi dari Suku-suku Araan sejumlah Shaikh dari Suku Mathir, dan ketika kelompok lain dari suku yang sama datang untuk menengahi dan meminta membebaskan semua tawanannya, Saud Awal memberikan perintah kepada orang-orangnya untuk memenggal kepala semua tawanannya, kemudian mempermalukan dan menurunkan nyali para penengah dengan cara mengundang mereka ke jamuan makan, makanan yang dihidangkan adalah daging manusia yang sudah dimasak, potongan kepala tawanan diletakkannya di atas piring. Para penengah menjadi terkejut dan menolak untuk makan daging saudara mereka sendiri, karena mereka menolak untuk memakannya, Saud Awal memerintahkan memenggal kepala mereka juga. Itulah kejahatan yang sangat mengerikan yang telah dilakukan oleh orang yang mengaku dirinya sendiri sebagai raja kepada rakyat yang tidak berdosa, kesalahan mereka karena menentang terhadap kebengisannya dan memerintah dengan sewenang-wenang.
Hafez Wahbi selanjutnya menyatakan bahwa, berkaitan dengan kisah nyata berdarah yang menimpa Shaikh suku Mathir, dan sekelompok suku Mathir yang mengunjunginya dalam rangka meminta pembebasan pimpinan mereka yang menjadi tawanan Raja Abdul Aziz Al-Saud bernama Faisal Al-Darwis. Diceriterakannya kisah itu kepada utusan suku Mathir dengan maksud mencegah agar mereka tidak meminta pembebasan pimpinan mereka, bila tidak, mereka akan diperlakukan sama. Dia bunuh Shaikh Faisal Darwis dan darahnya dipakai untuk berwudlu sebelum dia shalat. (melaksanakan ajaran menyimpang Wahhabi). Kesalahan Faisal Darwis waktu itu karena dia mengkritik Raja Abul Aziz Al-Saud, ketika raja menandatangani dokumen yang disiapkan penguasa Inggris pada tahun 1922 sebagai pernyataan memberikan Palestina kepada Yahudi, tandatangannya dibubuhkan dalam sebuah konferensi di Al-Qir tahun 1922.
Sistem rejim Keluarga Yahudi (Keluarga Saudi) dulu dan sekarang masih tetap sama: Tujuan-tujuannya adalah: merampas kekayaan negara, merampok, memalsukan, melakukan semua jenis kekejaman, ketidakadilan, penghujatan dan penghinaan, yang kesemuanya itu dilaksanakan sesuai dengan ajarannya Sekte Wahhabi yang membolehkan memenggal kepala orang yang menentang ajarannya.
Diterjemahkan oleh: akhirzaman.info
Link terkait:
  1. Wahabi Penghancur Peradaban Islam
  2. Asal-usul: Penciptaan Sindikat Kriminal Saudi
  3. Globalis Menciptakan Terorisme Wahhabi Untuk Menghancurkan Islam Dan Menjustifikasi Negara Dunia
  4. Detik-detik Tegaknya Kembali Khilafah
  5. http://www.sauduction.com/index.html

Sabtu, 01 Maret 2014

9 Pedang Milik Nabi Muhammad SAW

9 Pedang Milik Nabi Muhammad SAW

Ini adalah pedang-pedang yang pernah dipakai oleh Nabi Muhammad SAW semasa hidupnya untuk berdakwah, jumlah total pedang yang pernah digunakan ada 9 buah.

1. Al Ma’thur




Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami,

Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).

Juga dikenal sebagai ‘Ma’thur Al-Fijar’ adalah pedang yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW sebelum dia menerima wahyu yang pertama di Mekah. Pedang ini diberi oleh ayahnya, dan dibawa waktu hijrah dari Mekah ke Medinah sampai akhirnya diberikan bersama-sama dengan peralatan perang lain kepada Ali bin Abi Thalib.


Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 99 cm. Pegangannya terbuat dari emas dengan bentuk berupa 2 ular dengan berlapiskan emeralds dan pirus. Dekat dengan pegangan itu terdapat Kufic ukiran tulisan Arab berbunyi: ‘Abdallah bin Abd al-Mutalib’.



2. Al 'Adb




Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami, Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).



Al-’Adb, nama pedang ini, berarti “memotong” atau “tajam.” Pedang ini dikirim ke para sahabat Nabi Muhammad SAW sesaat sebelum Perang Badar. Dia menggunakan pedang ini di Perang Uhud dan pengikut-pengikutnnya menggunakan pedang ini untuk menunjukkan kesetiaan kepada Nabi Muhammad SAW. Sekarang pedang ini berada di masjid Husain di Kairo Mesir.




3. Dhu Al Faqar




Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami, Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).

Dhu Al Faqar adalah sebuah pedang Nabi Muhammad SAW sebagai hasil rampasan pada waktu perang Badr. Dan dilaporkan bahwa Nabi Muhammad SAW memberikan pedang ini kepada Ali bin Abi Thalib, yang kemudian Ali mengembalikannya ketika Perang Uhud dengan bersimbah darah dari tangan dan bahunya, dengan membawa Dhu Al Faqar di tangannya.

Banyak sumber mengatakan bahwa pedang ini milik Ali Bin Abi Thalib dan keluarga. Berbentuk blade dengan dua mata.



4. Al Battar




Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami, Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).


Al Battar adalah sebuah pedang Nabi Muhammad SAW sebagai hasil rampasan dari Banu Qaynaqa. Pedang ini disebut sebagai ‘Pedangnya para nabi‘, dan di dalam pedang ini terdapat ukiran tulisan Arab yang berbunyi :

‘Nabi Daud AS, Nabi Sulaiman AS, Nabi Musa AS, Nabi Harun AS, Nabi Yusuf AS, Nabi Zakaria AS, Nabi Yahya AS, Nabi Isa AS, Nabi Muhammad SAW’.

Gambar ukiran nama-nama para nabi di dalamnya :



Di dalamnya juga terdapat gambar Nabi Daud AS ketika memotong kepala dari Goliath, orang yang memiliki pedang ini pada awalnya. Di pedang ini juga terdapat tulisan yang diidentifikasi sebagai tulisan Nabataean.

Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 101 cm. Dikabarkan bahwa ini adalah pedang yang akan digunakan Nabi Isa AS kelak ketika dia turun ke bumi kembali untuk mengalahkan Dajjal.



5. Hatf





Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami,

Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992)

Hatf adalah sebuah pedang Nabi Muhammad SAW sebagai hasil rampasan dari Banu Qaynaqa. Dikisahkan bahwa Nabi Daud AS mengambil pedang ‘Al Battar’ dari Goliath sebagai rampasan ketika dia mengalahkan Goliath tersebut pada saat umurnya 20 tahun.

Allah SWT memberi kemampuan kepada Nabi Daud AS untuk ‘bekerja’ dengan besi, membuat baju baja, senjata dan alat perang, dan dia juga membuat senjatanya sendiri. Dan Hatf adalah salah satu buatannya, menyerupai Al Battar tetapi lebih besar dari itu.

Dia menggunakan pedang ini yang kemudian disimpan oleh suku Levita (suku yang menyimpan senjata-senjata barang Israel) dan akhirnya sampai ke tangan Nabi Muhammad SAW. Sekarang pedang ini berada di Musemum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade, dengan panjang 112 cm dan lebar 8 cm.




6. Al Mikhdham




Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami,

Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).

Ada yang mengabarkan bahwa pedang ini berasal dari Nabi Muhammad SAW yang kemudian diberikan kepada Ali bin Abi Thalib dan diteruskan ke anak-anaknya Ali. Tapi ada kabar lain bahwa pedang ini berasal dari Ali bin Abi Thalib sebagai hasil rampasan pada serangan yang dia pimpin di Syria.

Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 97 cm, dan mempunyai ukiran tulisan Arab yang berbunyi: ‘Zayn al-Din al-Abidin’.



7. Al Rasub





Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami,

Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).

Ada yang mengatakan bahwa pedang ini dijaga di rumah Nabi Muhammad SAW oleh keluarga dan sanak saudaranya seperti layaknya bahtera (Ark) yang disimpan oleh bangsa Israel.

Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 140 cm, mempunyai bulatan emas yang didalamnya terdapat ukiran tulisan Arab yang berbunyi: ‘Ja’far al-Sadiq’.



8. Al Qadib





Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami,

Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).

Al-Qadib berbentuk blade tipis sehingga bisa dikatakan mirip dengan tongkat. Ini adalah pedang untuk pertahanan ketika bepergian, tetapi tidak digunakan untuk peperangan.

Ditulis di samping pedang berupa ukiran perak yang berbunyi syahadat:

“Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad Rasul Allah – Muhammad bin Abdallah bin Abd al-Mutalib.”

Tidak ada indikasi dalam sumber sejarah bahwa pedang ini telah digunakan dalam peperangan. Pedang ini berada di rumah Nabi Muhammad SAW dan kemudian hanya digunakan oleh khalifah Fatimid.

Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Panjangnya adalah 100 cm dan memiliki sarung berupa kulit hewan yang dicelup.




9. Qal’a




Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami,

Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).

Pedang ini dikenal sebagai “Qal’i” atau “Qul’ay.” Nama yang mungkin berhubungan dengan tempat di Syria atau tempat di dekat India Cina. Ulama negara lain bahwa kata “qal’i” merujuk kepada “timah” atau “timah putih” yang di tambang berbagai lokasi.


Pedang ini adalah salah satu dari tiga pedang Nabi Muhammad SAW yang diperoleh sebagai rampasan dari Bani Qaynaqa. Ada juga yang melaporkan bahwa kakek Nabi Muhammad SAW menemukan pedang ini ketika dia menemukan air Zamzam di Mekah.

Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 100 cm. Didalamnya terdapat ukiran bahasa Arab berbunyi: “Ini adalah pedang mulia dari rumah Nabi Muhammad SAW, Rasul Allah.”

Pedang ini berbeda dari yang lain karena pedang ini mempunyai desain berbentuk gelombang.

PENGARUH BIAYA PROMOSI TERHADAP HASIL PENJUALAN PADA PT SEAPI

PENGARUH BIAYA PROMOSI TERHADAP HASIL PENJUALAN PADA PT SEAPI

Kata kunci: Analisa Regresi dan Korelasi Berganda Linier

BAB I

PENDAHULUAN
 
1.1 Latar Belakang

Dunia usaha dewasa ini semakin berkembang, ditandai dengan semakin tajamnnya persaingan dalam berbagai bidang. Oleh karena itu peranan pemasaran semakin penting dan merupakan ujung tombak bagi tiap perusahaan yang memproduksi dan memasarkan produknya. Sejalan dengan beredarnya berbagai merk produk di pasaran yang umumnya berasal dari masing-masing perusahaan yang menghasilkan jenis produk yang sama, menyebabkan timbulnya persaingan untuk mendapatkan minat dan kepercayaan konsumen atau dengan kata lain untuk mendapatkan pangsa pasar.
Ketatnya persaingan serta perubahan pendapatan manusia itulah yang membuat perusahaan-perusahaan berusaha menarik minat konsumen dengan berbagai trik atau cara sesuai dengan kondisi masing-masing perusahaan itu sendiri. Untuk menarik minat konsumen, sekaligus memenangkan persaingan antar perusahaan maka diperlukan suatu strategi pemasaran yang tepat. Salah satu komponen pemasaran yang paling dibutuhkan oleh perusahaan adalah promosi. Dengan promosi itulah masing-masing perusahaan dapat menawarkan produk atau jasa dengan semenarik mungkin. Selain itu bagi konsumen itu sendiri, promosi juga dapat berperan sebagai sarana komunikasi yang efekif untuk lebih mengenal perbedaan dan kelebihan produk yang satu dengan yang lainnya.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun masalah yang dibahas dalam penulisan ilmiah ini adalah:
     1. Kegiatan promosi apakah yang dilakukan oleh PT SEAPI
     2. Bagaimanakah pengaruh biaya promosi terhadap hasil penjualan pada PT SEAPI
1. 3 Batasan Masalah
Dalam penulisan ilmiah ini penulis membatasi pembahasan masalahnya pada kegiatan promosi
yang dilakukan PT SEAPI dan pengaruhnya terhadap hasil penjualan pada PT SEAPI dengan
data sampel tahun 1998-2002.

1.4 Tujuan penelitian

Adapun tujuan penelitian ilmiah ini antara lain:
       1.  Untuk mengetahui kegiatan promosi yang dilakukan oleh PT SEAPI.
       2. Untuk mengetahui pengaruh biaya promosi terhadap hasil penjualan PT SEAPI.
1.5 Metode Penelitian
Dalam penyusunan penelitian ilmiah ini maka penulis menggunakan metode pengumpulan data
yang berupa:
      1. Pengumpulan data primer
          Dilakukan dengan cara observasi obyek penelitian yaitu PT. SEAPI, yaitu mengamati 
          bagaimanacara PT. SEAPI melakukan kegiatan promosinya.
      2. Pengumpulan data sekunder
          Dilakukan dengan cara memperlajari buku-buku literature yang berhubungan dengan
         topik penelitian ilmiah ini dan wawancara langsung dengan pihak PT. SEAPI yang
         terkait untuk memperoleh data-data yang diperlukan oleh penulis.



BAB II


2.1 Landasan Teori

Pemasaran merupakan peranan yang sangat penting di dalam dunia perekonomian dan perdagangan
dewasa ini, karena pemasaran menyangkut beberapa aspek kehidupan termasuk di bidang ekonomi
dan sosial. Oleh  karena itu masalah pemasaran mendapat tempat tersendiri disamping bidang-bidang
lain, sebab pemasaran dapat membantu dalam menentukan nilai atau harga barang dan jasa  yang
banyak mengalami persaingan. Maka di dalam menghadapi persaingan terhadap produk sejenis
perusahaan perlu berhati-hati di dalam memasarkan produk tertentu.

2.2  Pengertian Pemasaran

Menurut Philip Kotler & Gary Amstrong (1997 ; 8)” konsep dari pemasaran modern adalah
suatu proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan kebutuhan
dan keinginan mereka dengan menciptakan, menawarkan dan bertukar sesuatu yang bernilai
satu sama lain.”
Pemasaran menurut Philip Kotler & Gary Amstrong (1997 ; 7) dimulai dari kebutuhan dan
keinginan manusia. “Kebutuhan manusia adalah keadaan manusia tidak memiliki kepuasan
dasar, sedangkan keinginan adalah hasrat akan pemuas tertentu dari kebutuhan tersebut.” “Sementara permintaan dapat didefinisikan sebagai keinginan akan suatu produk atau jasa
yang didukung dengan kemampuan serta kesediaan untuk membelinya”. Suatu keinginan akan
menjadi permintaan apabila didukung daya beli. Perusahaan tidak hanya harus mengukur berapa banyak pelanggan yang menginginkan produknya tetapi juga mengukur berapa banyak yang mampu membeli produknya.
Menurut Philip Kotler (1997 ; 9) pemasar berfungsi untuk memenuhi keinginan dan permintaan
dengan membuat suatu produk cocok, menarik, terjangkau dan mudah didapatkan oleh konsumen
yang dituju.
Pengertian pemasar itu sendiri adalah aktivitas manusia yang berkaitan dengan pasar, yaitu bekerja
dengan pasar untuk mewujudkan transaksi yang mungkin terjadi di dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia.berikut ini adalah pengertian pemasaran menuru:

      1. Wiliam. J. Stanton (1996 ; 7) :
            Pemasaran adalah suatu sistem total dari kegiatan yang dipandang untuk
merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, mendistribusikan barang-barang yang
dapat memuaskan keinginan jasa baik kepada para konsumen saat ini maupun konsumen
industri.”
      2. Teguh Budiarto (1993 ; 2) :
            “Kegiatan pemasaran untuk menjalankan bisnis (profit maupun non profit) untuk
memenuhi kebutuhan pasar dengan barang dan jasa, menetapkan harga, mendistribusikan
serta mempromosikannya melalui proses pertukaran agar memuaskan konsumen dan
mencapai tujuan perusahaan.”
      3. Philip Kotler & Gary Amstrong (1997 ; 6) :
            Suatu proses sosial yang di dalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang
mereka inginkan dan butuhkan dengan menciptakan, menawarkan dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.”

       Dari definisi di atas, jelas bahwa pemasaran merupakan suatu rangkaian kegiatan manusia yang
disebabkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui suatu proses pertukaran. Agar
pemasaran memenuhi sasaran yang diinginkan maka diperlukan adanya pengelolaan dan pengendalian kegiatan tersebut yang berpedoman pada suatu konsep pemasaran

2.3 Bauran Pemasaran

          Menurut Philip Kotler (1998 ; 37) : Bauran pemasaran merupakan perpaduan khusus
antara iklan, penjualan pribadi, promo penjualan, hubungan masyarakat yang digunakan perusahaan untuk meraih tujuan iklan dan pemasarannya."
          Bauran pemasaran terdiri dari segala sesuatu yang dapat dilakukan perusahaan untuk
mempengaruhi permintaan produknya. Kemungkunan yang banyak itu dapat digolongkan menjadi
empat kelompok variabel yang dikenal sebagai “4p” yaitu product, price, place dan promotion (produk, harga, distribusi, promosi):

1.      Product (produk), berarti kombinasi barang dan jasa yang ditawarkan oleh perusahaan kepada
      pasar sasaran terdiri atas variasi produk, kualitas, pesaing, nama merk, kemasan ukuran, layanan,
      dan  garansi.
2.      Price (harga), adalah jumlah uang yang harus dibayar oleh pelanggan untuk memperoleh produk,
      terdiri dari harga katalog, diskon, potongan khusus, periode pembayaran dan persyaratan kredit.
3.      Place (distribusi), termasuk aktivitas perusahaan untuk membuat produk tersedia bagi
      konsumen pasaran.
4.   Promotion (promosi), berarti aktivitas yang mengkomunikasikan keunggulan produk dan
      membujuk pelanggan sasaran untuk membelinya terdiri atas promosi penjualan, periklanan,
      personal selling, publik relation dan direct marketing.

          Program pemasaran efektif mencampurkan semua elemen bauran pemasaran ke dalam
program terkoordinasi yang dirancang untuk mencapai sasaran pemasaran perusahaan dengan
menyerahkan nilai kepada konsumen. Bauran pemasaran membentuk alat taktis perusahaan untuk memantapkan pemosisian yang kuat dalam pasar sasaran. Akan tetapi, perhatikan bahwa 4P mewakili pandangan penjual mengenai peralatan pemasaran yang tersedia untuk mempengaruhi pembeli. Dari
sudut pandang konsumen, setiap alat pemasaran dirancang untuk membawa manfaat bagi pelanggan. Salah seorang ahli pemasaran mengemukakan bahwa perusahaan harus memandang 4P dalam artian pelanggan.

2.4 Konsep Dan Strategi Pemasaran

            Dalam era kompetisi yang kian tidak mengenal batas geografis, pemahaman akan kebutuhan
konsumen pada pasar yang dilayani akan menentukan keberhasilan pencapaian tujuan perusahaan.
Konsep pemasaran dalam hal ini berintikan bahwa seluruh kegiatan organisasi perusahaan diarahkan 
untuk dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen.
            Menurut Basu Swasta DH (2002 ; 181) “Konsep pemasaran adalah sebuah filsafah bisnis
yang menyatakan bahwa pemuas kebutuhan konsumen merupakan syarat ekonomi dan sosial
bagi kelangsungan hidup perusahaan."
Masih menurut Basu Swastha (2000 ; 6), konsep pemasaran dibuat dengan menggunakan tiga faktor yaitu:
1.      Seluruh perencanaan dan kegiatan perusahaan harus berorientasi pada   konsumen atau pasar.
2.     Volume penjualan yang menguntungkan harus menjadi tujuan utama dan bukannya untuk
      kepentingan volume itu sendiri.
3.   Seluruh kegiatan pemasaran dalam perusahaan harus dikoordinasikan dan diintegrasi secara organisasi.

2.5 Strategi Bauran Promosi

        Sistem pemasaran modern membutuhkan lebih daripada sekedar mengembangkan produk yang
baik dan diminati pelanggan, menetapkan harga jual yang menarik dan kompetitif serta membuatnya
mudah diperoleh pelanggan sasaran. Setiap perusahaan mau tidak mau harus dapat berperan sebagai komunikator atau promotor.
       Untuk dapat berkomunikasi dengan efektif, biasanya perusahaan akan menyewa biro iklan untuk mengembangkan iklan yang menarik dan efektif. Pemilihan sarana promosi secara tepat merupakan
faktor penting guna meningkatkan jumlah konsumen.

       Menurut Philip Kotler (1998 ; 41)promosi itu sendiri adalah alat komunikasi antar
perusahaan dengan pelanggan potensial,”. Sedangkan menurut Basu Swasta DH (2002 ; 217),  “promosi adalah arus informasi atau persuasi satu arah yang dibuat untuk mengarahkan
seseorang atau organisasi kepada tingkatan yang menciptakan pertukaran dalam pemasaran
atau semua jenis kegiatan pemasaran yang ditujukan untuk mendorong permintaan."
       Dari dua definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian promosi pada dasarnya adalah sama,
yakni untuk lebih sering menciptakan permintaan dan itu semua adalah satu usaha untuk meningkatkan
hasil penjualan.
       Menurut Basu Swasta DH (2002 ; 223), “bauran promosi terdiri dari empat alat promosi
yaitu periklanan, publisitas, promosi penjualan, dan penjualan perseorangan.” Maka dibawah ini
akan dijelaskan satu persatu bauran promosi tersebut.
1).  Periklanan
Merupakan suatu komunikasi atau presentasi non individu dengan sejumlah biaya melalui berbagai
media yang dilakukan olah perusahaan, lembaga atau non lembaga serta individu-individu.
Media periklanan dapat berupa :
  1. Media cetak (printed matters)
    Contohnya koran, majalah, katalog, iklan pos dan buletin.
  2. Media elektronik
    Contohnya komputer, radio, telephone, fax, telex, televisi
    Pertimbangan pemilihan media periklanan yaitu :
    Kemampuan atau daya jangkau dan dampaknya dengan audience.
    -  Pemilihan media utama untuk keluaran produk tertentu.
    -  Perilaku saat dan intensitas.

       Langkah pertama dalam membuat periklanan adalah menetapkan tujuan periklanan. Tujuan ini
harus berasal dari keputusan sebelumnya mengenai pasar sasaran, penentuan posisi pasar, dan bauran
pemasaran. Adapun tujuan periklanan secara umum yakni:
 1.  Periklanan Informatif
     Yaitu periklanan yang bertujuan memberikan informasi dari produk perusahaan. Misalnya
      tentang deskripsi, kemampuan cara kerja, keunggulan, kualitas, harga dsb. Umumnya digunakan
      pada tahap perkenalan suatu produk baru. Periklanan ini juga berguna untuk membuat permintaan
      primer yaitu permintaan terhadap jenis barang tertentu.
2.   Periklanan Persuasif
      Yaitu jenis periklanan yang tujuannya membujuk calon konsumen untuk melakukan pembelian
      ulang produk perusahaan. Tujuan periklanan ini adalah   menciptakan permintaan efektif yaitu
      permintaan terhadap merk tertentu.

Seringkali periklanan persuasif akan menjadi periklanan yang:
1.      Komperatif yaitu periklanan yang membandingkan produknya dengan produk pesaing.
     2.   Periklanan yang mengingatkan kembali yaitu bentuk periklanan yang bertujuan untuk
           mengingatkan kensumen agar tetap setia terhadap produk perusahaan.

Secara umum harga-harga produk justru akan lebih murah dengan adanya iklan dapat meningkatkan permintaan produk yang bersangkutan

2).  Publisitas
                Menurut Basu Swastha (2002 ; 229), “publisitas merupakan sejumlah informasi
     tentang seseorang, barang atau jasa yang didistribusikan ke masyarakat melalui media
     tanpa dipungut biaya atau pengawasan sponsor."
               Perusahaan perlu berusaha menciptakan dan membangun kesan masyarakat (publisitas)
    dengan membina hubungan yang baik antara karyawan, pelanggan, perantara, pemasok, pemerintah
    dan masyarakat (publik). Dengan usaha menjaga dan mengatasi dengan segera berita-berita tentang
     perusahaan berarti juga suatu usaha menciptakan publisitas yang baik. Umumnya kegiatan
     hubungan masyarakat dilakukan oleh bagian tersendiri dalam struktur organisasi kantor pusat
     langsung dibawah manajer umum.
               Masih menurut Basu Swastha DH (2002 ; 229) tujuan publisitas adalah:
      -  menciptakan kesadaran masyarakat
      -  membina kredibilitas
      -  mendukung kegiatan penjualan
               Media publisitasya sendiri ada beberapa seperti:

      -  seminar
      -  lokakarya                         
      -  informasi tertulis, audio visual dan telephone

3). Promosi Penjualan
              Menurut Philip Kotler (1998 ; 257), “promosi penjualan terdiri dari kumpulan kiat
    insentif yang beragam, kebanyakan berjangka pendek, dirancang untuk mendorong pembelian  
    suatu produk atau jasa tertentu secara lebih cepat dan lebih besar oleh konsumen atau
    pedagang."
              Promosi  penjualan mencakup kiat untuk promosi konsumen (sampel, percobaan gratis, potongan
    harga); promosi perdagangan (tunjangan iklan dan barang gratis); promosi bisnis dan wiraniaga (pameran
    dan konvensi perdagangan).
              Sedangkan menurut Basu Swastha DH (2002 ; 229),promosi penjualan merupakan
    kegiatan promosi yang mendorong efektifitas pembelian konsumen dengan menggunakan media
    seperti peragaan, pameran dan demonstrasi."

Produk dapat dikelompokkan menjadi 3 aspek yaitu:
a. fungsi, yaitu hal yang dapat diberikan oleh produk.
b. cara, yaitu gaya, nilai emosional dari produk tersebut.
c. manfaat extra, yaitu manfaat lain yang bukan merupakan bagian utama yang dapat diberikan produk
    tersebut.

4). Penjualan Perseorangan
             Menurut Basu Swastha DH (2002 ; 226), “penjualan perseorangan merupakan interaksi 
     antara individu, saling bertemu muka yang ditujukan untuk menciptakan, memperbaiki,
     menguasai atau mempertahankan hubungan pertukaran yang saling menguntungkan dengan
     pihak lai."
             Secara umum tenaga penjualan sangat diperlukan oleh promosi perusahaan, dimana unsur
     volume dan harga merupakan penentu utama bagi pembeli. Periklanan memang mampu memberikan
     minat untuk pembeli terkuat tetapi tenaga penjualan lebih mampu merealisasikan minat tersebut dalam
     bentuk pembelian barang.
             Menurut Basu Swastha DH (2002 ; 226), jenis kegiatan yang dilakukan oleh tenaga penjual
     adalah:
 a. pengirim (delivery salesman)
     merupakan kegiatan di lapangan, umumnya hanya melakukan  pengantaran produk perusahaan
b.  penerima pesanan (order taker)
     kegiatannya dapat dilakukan di dalam atau di luar perusahaan. Tenaga penjual ini perlu
     memberikan keyakinan kepada pembeli agar dapat meningkatkan pembelian.
c.  wakil presiden (sales representative)
     tenaga penjual ini tidak diharapkan bahkan tidak diijinkan menangani   pesanan konsumen.
     Tugas utamanya yaitu menciptakan nama baik perusahaan dengan penjelasan kepada pembeli.
d. tenaga tehnik (tehnical representative)
    wakil perusahaan yang memiliki pengetahuan khusus ketehnikan hingga mampu berfungsi
    sebagai konsultan.
 e. pencipta permintaan (creative selling)
    kegiatannya dapat dilakukan di luar maupun di dalam perusahaan. Mereka berfungsi
   dalam penjualan kepada konsumen pertam dan melayani keluhan juga ketidakpastian
   pelanggan. Produk yang ditangani dapat berupa produk atau jasa

 2.6 Alat Analisa Yang Digunakan
             Untuk mengetahui hubungan antara promosi dengan hasil penjualan yang telah dihasilkan, dapat
  menggunakan beberapa metode sesuai dengan kebutuhan metode analisis data yang akan diterapkan
  dalam uraian:
   a. Metode  Analisa Regresi Berganda Linier
              Menurut T. Hani Handoko (1997 ; 290) untuk mengetahui bagaimana hubungan antara biaya
       promosi (dinyatakan dengan X) dan hasil penjualan (dinyatakan dengan Y) akan menggunakan analisa
       regresi berganda linier, sehingga dapat dilihat sejauh mana biaya promosi mempengaruhi hasil penjualan
      dan untuk itu diukur dengan koefisien korelasi (dinyatakan dengan r). untuk mengetahui persamaan
      regresi berganda linier dengan 2 variabel bebas, maka benruk persamaannya adalah:
 
Y = a + b1 X1 + b2 X2

  
dimana :
a        = bilangan konstanta
b1b2   = koefisien arah yang menentukan nilai penduga
x        = variabel bebas
y        = variabel tidak bebas
dimana a, b1 b2, merupakan koefisiennya yang diperoleh dengan cara seperti dibawah ini:

Lalu substitusikan kedalam rumus:
 


Setelah mendapatkan nilai b1 dan b2, maka mencari koefisien a, dengan rumus:
                                 a = `Y – b1`X1 – b2`X2
Maka persamaan Regresi Berganda Linier menjadi:
                                 Y = a + b1 X1 + b2 X

    
b. Metode Koefisien Determinasi Berganda
               Menurut T.Hani Handoko (1997 ; 293) Analisa Regresi dan Korelasi tidak menjelaskan
    ketepatan penggunaan hubungan variabel dengan keadaan sebenarnya. Untuk mendapatkan ketepatan
    pengukuran perlu digunakan analisa koefisien determinasi. Koefisien Determinasi menggambarkan
    presentase seberapa baik variabel bebas dapat dicari dengan mengkuadratkan koefisien korelasi denga
    notasi r2. Nilai Koefisien Determinasi ( r2 ) semakin mendekati 1, menerapkan semakin kuat tepatnya
    pengukuran hubungan variabel dengan keadaan sebenarnya.
    Rumus:

c. Metode  Analisis Koefisien Kolerasi Berganda
    Rumus:

Dimana nilai r dapat dinyatakan sebagai berikut:
Bila r = 0 atau mendekati 1
            Maka hubungan antara variabel sangat lemah atau tidak ada sama sekali
Bila r = +1 atau mendekati +1
            Maka hubungan antar variabel dikatakan positif dan sangat kuat
Bila r = -1 atau mendekati –1
            Maka hubungan antara variabel sangat kuat mendekati negatif



BAB III

Gambaran Umum Perusahaan


3.1 Sejarah Singkat Perusahaan


PT. SEAPI  (South East Asua Pipe Industries) yang memproduksi pipa baja Longitudinal Double Submerged Are Welding (DSAW) dibangun dan dirancang untuk memenuhi kebutuhan konsumen internasional terutama wilayah Asia Tenggara. Pemilik perusahaan ini adalah PT Bakrie and Brothers dengan bisnis utama telekomunikasi, pendukung infrastruktur, penanaman modal strategik dan sudah bergerak di bidang pipa baja sejak tahun 1960. PT SEAPI merupakan pabrik pipa baja ketiga milik PT Bakrie and Brothers Tbk, berdiri sejak 1996 dan memulai produksi komersial sejak Juli 1998.
            Pabrik SEAPI diulengkapi dengan peralatan kelas dunia yang dirancang dan diproduksi oleh Manesmann Demag Meer, sebuah perusahaan Jerman. Sistem yang ada telah dikontrol secara penuh oleh komputer, menjamin tingginya efisiensi proses produksi. Dilengkapi dengan Plate Trimmer otomatis, Three Rolls Bending yang dikontrol oleh CNC dan PLC., Tack Welding, Internal dan External Welding, kendali lebih lanjut CNC untuk uji hydro, uji x-ray, uji ultrasonic. Pabrik ini akan memproduksi pipa baja tanpa cacat yang dapat diaplikasi untuk pipa gas dan minyak, pipa air tiang pancang, pipa jaket dan struktur bangunan.
            Lahan  SEAPI seluas 23,5 hektar, lahan penyimpanan produk dan ruang kantor seluas 17.400 m. Terlatak 3 km dari pelabuhan Bakauheni di selatan pulau Sumatera. Terletak dengan sangat strategis guna menghasilkan pipa yang berkualitas untuk pasar Indonesia, Asia Tenggara dan global.
            PT SEAPI mempunyai kebijakan tentang mutu yaitu : “menyediakan produk yang handal untuk para pelanggan kami, pada tingkat kualitas yang sepenuhnya memenuhi harapan dan semua persyaratan kontrak”. Sebagai perusahaan international yang memenuhi permintaan pasar domestik dan international mempunyai visi menyediakan pipa berkualitas tinggi untuk memenuhi permintaan pasar industri global yang terus meningkat. Selain visi SEAPI juga memiliki misi menjamin kualitas produknya agar tetap sesuai dengan API  Spec QI dan ISO 90002 dengan:
-          tindakan yang terdokumentasi
-          proses pengendalian kualitas, manufaktur yang ketat
-          menyediakan fasilitas manufaktur yang memadai
-          menyediakan peraturan pengendalian kualitas yang memadai
-     memberikan pelatihan kepada operator dan pegawai

3.2  Jenis Produksi PT SEAPI

         PT SEAPI yang memproduksi pipa baja longitudinal DSAW yang berkualitas tinggi dan tanpa cacat menerapkan metode produksi yang dikontrol oleh komputer dan otomatis secara penuh dimulai dari menyediakan bahan baku sampai pelayanan produk jadi.
         Produk yang dihasilkan adalah pipa baja longitudinal DSAW  dengan diameter 24” sampai dengan 48”., ketebalan dinding sampai dengan 32 mm menggunakan proses Hauslen Three Rolls Bending dengan panjang maximum pipa 12,2 meter (40 feet).
         Pipa baja yang dihasilkan dikontrol oleh standar kualitas international sesuai dengabn aplikasinya, pabrik ini juga memproduksi pipa berdiameter mulai dari 24” sampai dengan 48”. Dengan ketebalan dinding sampai dengan 1,25” dengan konsultasi terlebih dahulu.

 Tabel 3.1
Jenis-jenis pipa yang diproduksi
 
 Sumber: PT SEAPI
 Tabel 3.2
Diameter luar / ketebalan pipa

Sumber: PT SEAPI

          Dengan menggunakan mesin Housler Three Rulls Bending Process yang mampu membuat pipa
sampai dengan ketebalan 32 mm, kapasitas produk SEAPI sampai dengan 200.000 ton/thn.
          Bahan baku utama adalah pipa baja dengan komposisi kimia (chemical compotition) dan spesifikasi material (mechanical properties) yang disesuaikan dengan standar aplikasi. Masih ada bahan baku yang habis terpakai (consumable) seperti welding wire, welding flux, electrode, varnis, sarung tangan pekerja, kacamata dan topi pengaman.

3.3 Sruktur Organisasi
Gambar 3.1
Stuktur Organisasi PT SEAPI

 Sumber: PT SEAPI


Tugas dan wewenang dari masing-masing bagian sesuai struktur organisasi tersebut diatas adalah sebagai berikut:
1.      President Director
Memiliki wewenang dan tanggung jawab tinggi dalam organisasi SEAPI,        bertanggung jawab dalam mengkoordinasi, mengarahkan dan mengendalikan kegiatan perusahaan dalam proses produksi, pemasaran dan unit penunjang untuk mencapai hasil usaha dalam arti seluas-luasnya, memberikan wewenang dan tanggung jawab sesuai kebutuhan untuk mencapai tujuan kualitas.
2.      General Manager Operational
Menerima wewenang langsung dari presiden director dalam mengkoordinasi, mengarahkan dan mengendalikan kegiatan perusahaan dalam proses produksi pemasaran dan unit-unit penunjang bagi seluruh divisi manajer.
3.      Production Manager
Merumuskan, menerapkan kebijakan produksi dan teknologi dengan mengkoordinasikan, mengarahkan dan mengendalikan dalam proses produksi, perencanaan dan perawatan pabrik, quality control penanganan hasil produksi serta unit penunjang untuk menjamin optimalisasi operational pabrik dalam mencapai target dan kualitas yang telah ditetapkan.
4.      Quality Control  Manager
Berwenang juga sebagai manajement representative. Berwenang dan bertanggung jawab dalam administrasi program kualitas SEAPI, bertanggung jawab meyakinkan karyawan untuk mengerti kebijakan kualitas SEAPI dan berdedikasi untuk menerapkannya dalam setiap tngkatan organisasi, juga bertanggung jawab sebagai perancang dan penerapan program kualitas secara menyeluruh.
5.   Sales and Marketing Manager
Bertanggung jawab dalam menerima dan mengkaji tender dan kontrak penjualan domestik dan eksport, penjelasan teknis dan komunikasi untuk konsumen.
6.      Finance Manager
Bertanggung jawab dalam pengelolaan keuangan perusahaan dan pembelian keperluan pabrik.
7.      HRD Manager
Bertanggung jawab terhadap administrrasi karyawan, rekrutmen, pelatihan dan keamanan.
8.   PPIC  Manager
     Bertanggung jawab mengelola bahan baku, produk jadi, penyimpanan, aktivitas  gudang, proses 
     transportasi serta proses perkapalan.